Cerpen hot

Ngentot Teman Istri

Cerpen hot – Namaku Robby. 10 th. yang lalu, aku punyai kisah nyata yang sangat asyik dan sayang untuk tidak aku bagikan pada rekan netter. Pengalamanku memuaskan istri rekan yang sedang birahi berat tapi tidak mendapatkannya dari sang suami, sangat membekas di dalam kehidupanku, sehingga karena pengalaman ini pula yang mengakibatkan aku sampai kini sering sulit untuk menampik beberapa istri kesepian yang butuh pemuasan birahi.

Aku hidup dan berbisnis di kota D dengan pulaunya yang sangat tenar di mancanegara, juga dengan pantai K nya yang indah, area wisatawan menjemur diri. Aku bergerak dibidang farmasi. Aku punyai rekan dekat, baik secara persahabatan maupun di dalam bisnis. Namanya Har (samaran) dan istrinya cantik, anggun, usianya kira-kira 25 thn, biasa dipanggil Henny.

Hubungan bisnisku dengan Har dan istrinya berlangsung sinergis, karena Har dan Henny bergerak dibidang Alat Kesehatan (Alkes). Aku sering membawa klien/konsumen pada mereka, demikian juga aku sering memperoleh orderan dari mereka. Setiap Har memberikan orderan sales untukku, Henny senantiasa memberikan orderan tersebut, sehingga untungkan aku secara value.

Berjalannya waktu, kira-kira 1,5 th. sejak aku kenal mereka, bisnis kami berdua sukses dan Har mengembangkan usahanya sampai keluar kota, bahkan keluar pulau. Seringkali jikalau Har pergi memadai lama, dia senantiasa menitipkan istri dan anaknya padaku untuk aku memperhatikan segala sesuatunya.

Baca Juga: Cerpen Hot – Anak Sekolah

arena kedekatanku udah seperti keluarga sendiri, tiap-tiap pesan Har senantiasa aku perhatikan. Aku akui, bahwa Har sungguh berbahagia punyai istri yang boleh aku katakan mendekati sempurna, dengan tinggi 167 cm, berat kira-kira 49 kg, kulitnya putih mulus, penampilannya lemah lembut dengan sedikit kemanjaan dan di pipinya tak ketinggalan dengan lesung pipitnya.

Suatu ketika, Har telepon aku dan berpesan titip anak dan istrinya, karena Har akan ke pulau K sepanjang seminggu. “Rob, aku berkenan ke K seminggu, anda jikalau perlu order, langsung aja serupa henny yach, tolong memperhatikan juga anak istriku ya”, pesannya.

“Okey Har, ngga usah kuatir, akan aku bantu apa pun keperluan istrimu”.
“Hay Hen, gimana kabarnya, aku minta orderan nikh, kasih yg banyak ya”, pintaku padanya.
“Mau berapa anda Rob, aku sih siap bantu anda berapapun anda minta”, balasnya.
“Thanks orderannya ya Hen, jikalau tersedia problem, kontak aku aja”, pesanku.
“Robby, Rob, ntar dulu, kenapa sih buru-buru pulang?”, tanya Henny.
“Rob, itu lho si Raymond (anaknya) agak ngga enak badan, suhu badannya tinggi, dimana yach dokter anak yang bagus, anda khan tahu?”, katanya.
“Oh ada, itu dr. AH di jl.Diponegoro, bagus dokternya”, kataku.
“Kamu bantuin aku yach, antarin aku ntar sore”, pintanya.

Aku bingung untuk menjawabnya, bingung pada menolong sebagai istri rekan baikku dengan perasaan sungkanisasi yang tinggi karena suami tidak ada, kuatir jadi bahan gunjingan tetangganya, bahkan dokter spesialis anak tsb sampai malam selesainya. Henny mengerti keraguanku.

“Ayolah Rob, please bantu aku. Pegawai dan sopirku jam 05.00 sore khan udah pulang. Apa aku perlu telepon istrimu untuk mintain ijin?”.
“Okeylah, anda berkenan telepon istriku atau ngga, terserah. Pokoknya ntar sore jam 16.50 wita, aku jemput anda yach, jangan terlambat”, jawabku.
“Thanks ya Rob, anda baik banget deh, aku udah siap pasti”, sahutnya.

Tepat pukul 16.50 wita aku udah berada di depan pintu rumahnya. Aku tekan bel tempat tinggal dan selang beberapa waktu Henny keluar dengan baju sederhana.

“Ntar ya Rob, tadi tersedia pelanggan itu lho, aku jadi belum siap anda datang. Tunggu bentar yach, anda baca-baca dulu deh”, katanya.
“Okey Henny, sampaikan dulu, rias yang cantik biar dokternya naksir ama kamu”, gurauku padanya tanpa tersedia jawaban darinya.

Sekitar 15 menit kemudian, keluar Henny dari balik pintu kamar dengan Gaun yang amboi indahnya. Gaun yang sepantasnya digunakan waktu tersedia pesta atau acara resmi. Aku tertegun akan kecantikannya, kelembutannya dengan mengenakan gaun tersebut.

Dengan gaun panjang, putih halus gabungan bunga-bunga tulip pink didadanya kebawah, aroma parfumnya yang lembut dan pati harganya diatas 1 juta. Dengan sepatunya yang tidak sangat tinggi (memang Henny body nya udah tinggi), menaikkan keanggunan dirinya.

“Hey Rob, emangnya kenapa? koq bengong gitu sih? cantik ngga gini?”, tanya Henny.
“Aduh, anggun banget lho Hen. sampai aku terpesona. Apa ngga sangat bagus untuk hanya kedokter anak, Hen?”, saranku padanya.
“Karena Robby yang suruh, okey aja aku tukar bajunya. Kalau gitu, anda menunggu dulu ya Say..”,

Terkejut aku dibuatnya. apa aku ngga salah dengar nikh, sejak kapan Henny panggil aku semesra itu? Memang bukan henny jikalau tidak bikin hatiku senantiasa berdetak keras, dag.. dig.. dug..! Kejutan demi kejutan makin mengakibatkan aku mengaguminya.

Aku sendiri diruang tamu menunggu sang bidadari tukar pakaian. Sudah 2 kali aku dikejutkannya. Lamunanku pada kejutan pertama dengan gaun indahnya, kedua panggilan mesra yang “mungkin hanya boleh dimaksudkan pada orang yang paling dicintainya”.

“Rob, gimana jikalau aku pakai baju casual gini, masih feminin ngga?”, tanyanya dengan penuh manja sambil menggendong si Raymond (anaknya).
“Rob, koq diam aja sih, ngga sepakat aku casual gini ya?”, tanyanya.
“Henny bidadariku, aku sangat sepakat 1000% deh, anggun banget kamu”.
“Apa, apa anda tadi bilang Rob, cobalah ulangi sekali lagi?”, pintanya sambil mendekat dan mencubit perutku sebelah dalam.
“Aduh, sakit lho Hen!”, teriakku kecil, karena takut si kecil terkejut.

Tanpa basa-basi lagi, aku langsung ajak Henny dan anaknya langsung berangkat, karena aku udah daftarkan dan memperoleh rangkaian nomer 26. Perjalanan aku tempuh memadai singkat dan aku dengan Henny terdiam membisu sepanjang menunggu giliran dipanggil masuk. Pikiranku berkecamuk memikirkan kemanjaannya, langkah dia mencubitku.

Juga waktu itu aku kuatir misalnya tersedia rekan istriku yang lain ketemu dipraktek tsb, atau jumpa relasi, khan mampu timbul rumors macam- macam nantinya, walaupun kalaupun istriku tahu, tidak akan mengundang masalah. Kemudian giliranku dipanggil masuk, aku suruh dia masuk sendiri keruang dokter, tapi wajahnya cemberut isyarat protes.

Aku bingung, gimana nanti sang dokter ngga kaget, koq aku serupa perempuan lain? (dokternya udah kenal denganku). Aku ikuti saja kemauannya, dan sehabis aku jelaskan persoalannya pada sang dokter, di cek dan diberikan resep. Aku keluar dan menebus obat racikan diapotik sebelah praktek dokter.

Semua berlangsung lancar dan aku meluncur pulang kerumah Henny. Si kecil ternyata tertidur pulas dan ternyata tiudrnya konsisten sampai pagi tidak bangun. Rupanya si kecil memadai mengerti pada sikap, permohonan hati sang maminya. Dalam perjalanan, aku tidak banyak komentar, demikian juga dengan Henny. Entah mengapa, sejak aku panggil dia bidadari, sejak waktu itu dia banyak diam. Diam yang bagaimana, hanya Henny yang mampu menjawabnya.

Tapi syukur, aku salah satu style pria yang berkenan mengerti jiwa wanita, aku mampu menyelami perasaan wanita dan aku punyai berlebihan mampu membaca keadaan hati wanita yang sedang aku hadapi. Demikian yang aku menghadapi waktu ini, sesosok istri yang cantik, anggun dan manja, penuh romantisme, feminin dsb.

Tepat pukul 18.55 wita, aku tiba kembali dan Henny langsung masuk kamar tidur si kecil dan aku menutup pintu pagar. Mobil senantiasa aku parkir diluar, karena aku pikir tidak lama aku akan pamit pulang. Semua aku lakukan hanya demi menghargai rekan baikku, tidak enak berlama-lama dirumah dengan istri orang sendirian saja.

“Rob, anda jangan pulang dulu yach, temenin aku dinner, okey?”, tegur Henny sehabis keluar dari kamar.
“Aduh Hen, sorry deh, ini udah malam, ngga enak dilihat tetangga. Khan suamimu ngga dirumah”, jawabku.
“Rob, aku itu ngga mampu ma’em sendirian, ntar aku ngga ma’em sakit, khan anda yang sibuk nganterin aku ke dokter lagi”, rayunya padaku.
“Gimana ya Hen”, jawabku singkat dan bingung.
“Udah deh, apa aku perlu teleponin istrimu. Please Rob, please bantu aku, temenin aku sekali aja, khan ngga tiap kali anda mampu nemenin aku berdua aja dinner di rumahku?”, rayunya penuh manja.
“Khan udah sering aku makan malam disini, Hen”, jawabku menguji.
“Aku pengen berdua aja ama anda Say.., please yach. Aku berkenan banyak curhat ama kamu, kapan kembali Rob, berkenan ya, yach?”, pintanya konsisten merengek tanpa aku diberi kesempatan menjawabnya.
“Ayolah Rob, aku udah siapin masakan kesukaan anda lho siang tadi. Kamu khan paling suka Tenderloin steak thoo..?”, serbunya tanpa aku mampu komentar.
“Okey Hen, gini aja. Aku call suamimu dulu deh, biar suamimu mengerti anakmu sakit dan aku tadi ngantarin anda dan.. aku diundang dinner kamu, gimana okey..?”, ini permintaanku yang rasanya win-win situation.
“Boleh aja Rob, berarti anda berkenan khan, asyiik..!”, begitu responsnya.

Aku berpikir, parah juga deh menghadapi istri seperti gini, keadaan ini bikin aku sulit menolaknya dan langsung aku kontak si Har untuk memberitahunya dan ternyata Har penuh pengertian dan sangat percaya padaku dan istrinya.Akankah kepercayaan ini disalahgunakan? Pembicaraanku dengan suaminya didengar oleh Henny dan langsung wajahnya menampakkan cahaya bahagia, seperti anak kecil memperoleh ice cream.

“Nah Rob.., anda menunggu bentar yach, aku tukar baju dulu dan siapin ma’em nya biar asyik, benar ngga Say..?”, pintanya dengan senyum manis.
“Yach.., aku menunggu deh”, sahutku.

Gila benar Henny ini, pikirku. Karena cahaya lampu kamarnya yang sangat terang sedang diruang tamu memadai redup, maka di balik dasternya keluar belahan pahanya yang mulus sampai ke pangkalnya. Di balik daster tipisnya, keluar BH dan CD mininya berwarna “merah anggur”, gabungan warna yang sangat cocok dan nampaknya Henny ini sukanya warna-warna pastel dan pintar memadukan warna.

“Robby sayang.., koq ngelamun konsisten to, ngga berkenan yaa dinner disini? Atau tersedia janji ama WIL mu? he.. he.., bercanda lho Rob..”, sapanya bikin aku tersadar dari lamunan sambil dia mendekat padaku.
“Ngawur aja WIL, emangnya aku tersedia tampang nge-WIL apa? Ngapain mikirin WIL yang jauh, wong tersedia bidadari disini..”, sahutku.